Voice of Soul

"Jangan Dibaca Saat Khatib Khutbah"

Friday, January 19, 2007

ISLAM DAN SOSIALIS BERGANDENG TANGAN

(Relevankah Sebagai Manuver Politik Melawan Neo Imperialisme ?)



“Kami menasionalisasi seluruh sumber minyak dan gas bumi negara ini, bersama ini pemerintahan mengambil alih keuntungan, kepemilikan dan memiliki kontrol total dan absolut terhadap seluruh sumber alam ini. Kami memulainya dengan nasionalisasi migas. Besok kami akan menambahnya dengan pertambangan, kehutanan dan semua sumber alam yang telah diperjuangkan nenek moyang kami,'' Cuplikan pidato Evo Morales di ladang gas San Alberto, Bolivia Selatan, 1 Mei 2006
Amerika Latin berhasil membebaskan diri dari jeratan imperialis asing lewat program nasionalisasi-nya. Apakah Indonesia akan mengambil jalan yang sama ? Wallahu’alam.
Dominasi asing kian mencengkram Indonesia melalui ekonomi neoliberalisme. Termasuk sumber daya alam yang berhasil dikeruk dan keuntungannya begitu minimalis untuk kesejahteraan rakyat.

No.
Lokasi SDA
Persentase yang dimiliki Perusahaan Asing
Cadangan SDA
1.
Kilang LNG Arun (Aceh)
Exxon Mobile (30%), Japan Indonesia LNC Co. (15%)
17,1 triliun kubik gas. Hingga 2002 sudah 70 % cadangan gas dikuras
2.
Blok Cepu
Exxon Mobile (45%)
Versi Exxon 781 juta barrel.
3.
Papua
Free Port (81,28 %)
Emas 86,2 juta ons; Tembaga 32,2 juta ton;
4.
Nusa Tenggara
Newmont (45 %)
Emas 11,9 juta ons; Tembaga 10,6 juta ton
5.
Minahasa
Newmont (80 %)
Emas 2 juta ons
Sumber : Al-Wa’ie, no. 77 ,1-31 Januari 2007.

Campur tangan kapitalis asing terhadap negeri ini juga dilakukan melalui jerat utang luar negeri. Utang negara saat ini saja sudah mencapai US $ 130 miliar, yang terdiri dari utang luar negeri US$ 67,9 miliar dan utang domestik Rp. 658 triliun. Setiap tahun, pemerintah harus membayar cicilan utang luar negeri yang jatuh tempo Rp. 96 triliun, ditambah beban utang dalam negeri Rp. 60 triliun (Bappenas, 2006). Pendek kata, negeri ini bangkrut. Miskin tapi kaya yang akhirnya tutup lobang-gali lobang. Tidak heran bila terjadi pemiskinan massal pada rakyat, karena perekonomian di dalam genggaman para kapitalis yang tidak saja sebagai pengusaha namun juga penguasa.
Indonesia sendiri lebih senang menjadi ’nice boy’nya Amerika, sehingga banyak mengadopsi aturan-aturan sekuleristik dalam pemerintahannya. Demokrasi yang plintat-plintut menjadi tayangan sehari-hari. Di satu sisi memperjuangkan demokrasi namun di sisi lain menodai konsekuensi dari demokrasi. Lalu demokrasi seperti apa yang ingin diwujudkan selama sekian lama berdemokrasi ? Karena dengan berdemokrasi ternyata Indonesia kian democrazy. Jadi untuk apa berdemokrasi ? Bukankah lebih baik kembali kepada aturan Illahi ?
Aksi ekstra parlemen, bahkan dijuluki street parlianment (parlemen jalanan) mulai yang damai sampai anarkis menjadi wahana untuk mengoreksi kebijakan pemerintah yang kadang nyeleneh bahkan menyengsarakan rakyat. Sepakat, aksi itu untuk menentang kebijakan imperialis yang diterapkan oleh negara kepada rakyat. Namun, berbeda haluan. Yang satu menyeru kepada Islam, yang satu menyerukan pembebasan yang menganut demokratik sosialis. Serasikah bila gerakan yang berbeda haluan bahkan beda ideologi ini berkolaborasi dan bersinergi mewujudkan pembebasan manusia yang tertindas ?
“Kami berikan salut pada para pemimpin dan rakyat Amerika Latin. Mereka sudah melawan bandit-bandit AS dengan sangat heroik, dan memberikan semangat moral serupa bagi kami. Mereka menunjukkan jalan bagi rakyat yang tertindas… Anda akan saksikan betapa rakyat kami sudah bersama dengan Chavez dan Ernesto Che Guevara. Hampir di setiap rumah, anda akan saksikan poster-poster Che atau Chavez. Apa yang hendak kami sampaikan pada kawan-kawan sosialis kami yang hendak berjuang bersama-sama dengan kami untuk persaudaraan dan pembebasan adalah, janganlah bergabung jika anda menyatakan ‘Agama adalah Candu’. Kami tidak setuju terhadap analisa ini. Disini adalah bukti terbesar dimana gambar-gambar Chavez, Che, Sadr dan Hamaney berjejer bersama. Para pemimpin ini menyemangati rakyat kami dalam harmoni. Selama kami menghormati keyakinan kalian, dan kalian hormati keyakinan kami, tak kan ada kekuasaan imperialis yang tak dapat kita kalahkan!”.*** Wawancara Sayed Hasan Nasrallah, Sekretaris Jenderal Hizbullah, dengan Harian Turki, Evrensel, 14 Agustus lalu ketika ditanya menyangkut berdampingannya poster-poster seperti Che, Chavez, Ahmadinejad dan dirinya dalam demonstrasi di jalan-jalan Beirut (www.emep.org/girisen.htm)
Begitulah kenyataan yang terjadi. Libanon yang kini menjadi mangsa imperialis pun bergabung bersama kekuatan sosialis untuk mengusir antek imperialis dari negara mereka. Namun, bukankah persatuan ini sebuah bunuh diri politik ? Yang esensinya justru memberangus penegakan syari’at Islam, karena telah mengkompromikan paham sosialis komunis untuk bersatu dengan Islam.
Setahu saya, Islam yang ideologis tidak pernah kompromi dengan paham-paham yang bertentangan dengan Al-qur’an dan As-sunnah. Karena ideologi Islam sendiri berpegang teguh akan keyakinan sebagai hamba Illahi dan beraktifitas di dunia dengan aturan-aturan Islam serta bertanggung jawab atas segala aktifitasnya di dunia pada saat yaumil hisab kelak. Berbeda dengan ideologi sosialis-komunis yang berpegang teguh pada abiogenesis, tidak bertuhan (atheis) serta berstandar hidup pada dialektika dan evolusi materialisme. Dan ideologi ini pun mendapati kebangkrutannya karena terjadi peristiwa demokratik yang plintat-plintut pula. Di satu sisi menginginkan sama rata sama rasa namun tangan besi yang mengatur. Sehingga bila Islam dan Sosialis bersatu memerangi imperialisme, saya yakin, manuver politik ini akan bangkrut dan berdarah-darah penuh kudeta disertai aksi revolusioner yang anarki dan mustahil diridhai Allah SWT. Sehingga bersatu dengan ideologi sosialis dan gerakannya sama saja dengan bergabung dengan ideologi kapitalis sekularis bersama para anteknya karena kedua ideologi itu sama-sama sekuler. Sama-sama menganiaya Islam dan umatnya.
”Maka putuskanlah perkara di antara manusia dengan apa yang telah diturunkan Allah, dan janganlah engkau menuruti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu.” (Qs. Al-Maidah 48).
Wallahu’alam bish shawab.